Sabtu, 12 Desember 2009

Jakarta , 8 Desember 2009

apa yang aku pikirkan memang absurd
karena itu tidak berani aku lontarkan
bertopeng..
dua sisi yang tak pernah mati
bukan maksud hati munafik
hanya saja tujuanku membuat semuanya aman terkendali
belajar menahan emosi,
belajar untuk tahu
dan belajar untuk mengerti
ya, ini paling sulit
apa yang nantinya akan terlontar
memang senyuman
bukan terpaksa tulus
hanya saja bibirku kelu digerakkan
kalau nantinya terdengar tawaan ,
YA ! itu dariku
DARIKU !
jangan lihat aku
nanti air mataku bermain lagi
sudah saatnya aku urung air mataku untuk muncul di mataku
sepele ini
hanya cara pelepas rindu tidak mencapai titiknya
marah ?
tidak
kesal ?
tidak juga
ingin menyalahkan massa ?
jelas saja tidak
apa yang aku ekspresikan semua rancu
harap-harap cemas
semoga tak sampai otak
amini begitu saja
nanti jika aku bersuara ketika berjumpa
kuharap rasanya hilang
tumor yang ada dalam hatiku tercabut paksa
dan itu harus
tak disangka ,
aku nyaman dengan ini
teriakan kata kasar tak sayupsayup terdengar
gondok hati tak terasa
produksi air mata pada kelenjarnya pun tak ada
apa yang aku rasakan
tak jelas
buram
aku saja tak paham apalagi kamu
semuanya aman
jangan bilang aku berbohong
aku cuma ingin bertindak sebagai pahlawan sombong
yang menyelamatkan keadaan
terserah opini apa nanti yang bilang
aku bersumpah nanti,
dengan jari tersilang
ya, sedari tadi jariku tersilang ..

november

ketika aku dalam permenungan,
aku selalu bertanya : kenapa nama kamu yg muncul ketika aku membutuhkan seseorang ?
tapi aku dengan mudah bisa tersenyum karena memang namamu yg ada
pernah suatu ketika aku berdoa ,
aku pejamkan mata dan bertnya pada Pemilikku,
siapa yang akan Ayahku berikan untuk menemaniku,
Beliau dengan cepat memberi kamu untukku
karena aku tak tahu harus berekspresi seperti apa ,
kontan senyumku yg terkembang
tanpa paksaan tanpa kekangan
ketika aku berdiam dan berpikir
kenapa aku bisa menyukaimu saat mata belum bertemu mata
saat kulit belum tersentuh
saat raga tak pernah tampak,
dan aku mulai tahu : untuk menyayangimu tak pernah butuh alasan
ketika waktunya aku memahami semua jalan cerita yang baru kita tulis,
aku santai 'menulisnya'
aku suka ceritaku
aku tak pernah paham tujuan Bapaku memberimu hadir dalam hidupku
tak pernah mengerti jalan Ayahku untukku
tapi aku suka tiap episode hidupku yg aku lewati bersama kmu
terlalu frontal ?
mungkin
beberapa waktu aku berpikir
mungkin awalnya aku salah tapi andai aku salah
aku tak mau dibenarkan
karena aku nyaman dengan kesalahanku ini
aku berpikir lagi,
mngkin aku benar
andai menjadi benar adanya aku tak pernah mau jatuh karena disalahkan
begitu banyak ak melakukan permenungan
tamparan sanasini membuat aku sadar
mereka ya mereka
aku adalah aku
tak punya hak mereka mendikte hidupku
bahkan tahu pun mereka tidak
permenunganku berakhir,
terakhir ,
ketika aku berpikir ,
semuanya akan dimulai ketika Ayahku menghadiahkanmu untukku,
membuatku sayang padamu
menamparku dengan katakata manusia sekitar
membangkitkan semangatku untuk berdiri di sebelahmu
memelukmu dengan sayang
dan tanpa terpaksa aku bisa tersenyum karena hadiah Ayahku di november ini
tanpa dipaksa aku membuka tanganku ,
untuk menyambut datangnya kamu yang tak diduga
sebagai hadiahku
sebagai wujud mimpiku
dan sebagai dunia baruku
sempat kemarin Ayahku berbisik 'sayangi dia, dan jangan pernah tanya apa alasan menyayanginya karena sayang tulus tak pernah butuh alasan'
aku tersenyum mendengar Bapaku dan aku mulai mengaitkan kepingan hati milikku dengan miliknya dimulai saat november ini :)