Kamis, 25 Juni 2009

tengah malam

sebenarnya untuk apa saya menangis ?
air mata yang keluar tak ada arti pasti .
walau saya tahan sekuat tenaga ,
kelemahan selalu menginjakinjak tembok pertahanan saya .
pertanyaan saya pun tak ada yg mampu menjawab .
hanya saya ,
ya , hanya saya yang tahu ..
seharusnya .
tapi sayangnya saya tak tahu .
sebenarnya untuk apa saya menangis ?
tanda kebodohan yang saya buat sendiri ?
hanya sebuah ekspresi emosi tak terkendali .
detakan jantung ini pun terlalu cepat .
limbung ..
ekspresi emosi bodoh ini malah menghancurkan segalanya .
lidah ini bersuara lantang !
emosi menjadi pemicu .
cukup ! cukup ! cukup !
emosi masih terbakar .
saya menolak semuanya hancur berkepingkeping .
pastinya saya tak akan sanggup .
seperti terbangun dari tidur ,
lemas .
linglung .
semua yang masuk telinga ,
terlihat oleh mata ,
membuat otak tak bisa melakukan proses singkronisasi dengan jari dan lidah .
karena itu ,
semua kembali rancu .
mengapa ,
menjadi kata awal sebuah kalimat tanya yang dilempar kepada saya .
terserah ,
kata yang terkandung dalam jawaban .
untuk yang ini sisinya yang menjawab demikian .
orasi , orasi , orasi .
bagian ini adalah andil saya .
dan koneksi pun terputus ..
tak selesai ,
kembali hurufhuruf berbaris merengek minta dibaca .
saya baca .
MAAF ..
kata langka dalam kamusnya .
titiktitik air matanya jatuh lagi .
hmm .
saya terharu .
namun masih dalam keadaan limbung ,
nafas tak teratur ..
aku sayang kamu ,
itu kata yang terakhir .

Tidak ada komentar:

Posting Komentar